Minggu, 04 Januari 2015

Direktur dan Seorang Pemuda

Seorang pemuda berpakaian rapi dengan map cokelat ditangannya memandang cermin dan menyisir rambutnya lebih rapi lagi. Hari ini ia hendak melamar pekerjaan disebuah perusahaan multinasional terkenal di kotanya. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun pergi ke tempat tujuannya dan melakukan wawancara kerja. Yang mewawancarai pemuda ini adalah direktur perusahaan multinasional tersebut secara langsung. Direktur itu pun melihat semua dokumen dan CV yang si pemuda ini bawa dan berujar bahwa nilai-nilai akademik pemuda ini sangat bagus.

Kemudian si direktur bertanya kepada si pemuda, “Apakah biaya pendidikan kamu hingga S1 dibiayai oleh Ayahmu?” Si pemuda menjawab, “Tidak. Ayah saya sudah meninggal. Yang membiayai semua biaya sekolah saya adalah Ibu.”

“Lalu apakah kamu pernah mendapat beasiswa?” pemuda menggelengkan kepalanya. Kemudian direktur ini bertanya dimana ia dan ibunya tinggal serta apa pekerjaannya, dan si pemuda menjawab bahwa ia dan ibunya tinggal dipinggiran kota serta ibunya bekerja sebagai buruh cuci pakaian. Tak lama setelah itu si direktur mengulurkan tangannya untuk melihat kondisi kedua tangan pemuda ini.

“Apakah kau pernah membantu ibumu mencuci?”

“Tidak, ibu selalu ingin saya belajar dan membaca banyak buku pelajaran. Kemampuan mencucinya lebih hebat daripada saya.” Jawab si pemuda.

Sang direktur pun mengatakan sebuah permintaan kepada si pemuda ketika ia pulang dari tempat itu, ia meminta untuk membersihkan dan mengelap tangan ibunya. Merasa peluang bagus di depan mata, pemuda ini pun melakukan apa yang diminta sang direktur kepadanya. Sesampainya dirumah sang ibu terheran-heran dengan apa yang dilakukan anaknya, tapi biarpun begitu ia senang dan merasa terharu dengan sikap yang dilakukan oleh puteranya.

Dan saat si pemuda ini membersihkan tangan ibunya, saat itu ia menyadari ada begitu banyak luka di tangan sang ibu serta memar-memar kebiruan. Si pemuda begitu tersentuh hatinya dan menyadari bahwa selama ini perjuangan ibunya benar-benar keras untuk mendapatkan uang dan menyekolahkannya hingga lulus di tingkat universitas dengan nilai yang sangat baik.

Keesokan harinya si pemuda datang kembali dan menemui sang direktur. Ketika mereka saling berhadapan, si pemuda tidak mampu menahan air matanya karena ia masih teringat akan kedua tangan ibunya. Mereka terdiam sejenak dan setelah itu sang direktur mengajukan pertanyaan kepadanya.

“Bisakah kamu mengatakan apa yang saat ini sedang kau rasakan?”

Si pemuda ini menjawab, “Aku telah melakukan apa yang Direktur suruh kepadaku kemarin, dan aku menyadari betapa kerasnya perjuangan ibuku untuk aku selama ini. Aku merasa beruntung mempunyai ibu seperti ibuku dan aku mendapat sebuah pelajaran hidup yang baru. Saya menghargai semua yang telah ibu saya lakukan untuk saya”

Tanpa basa-basi, sang direktur langsung menerima pemuda ini bekerja diperusahaan yang dikelolanya lalu menjabat dengan kuat tangan si pemuda. “Orang seperti inilah yang sedang saya cari. Saya mencari seseorang yang dapat menghargai segala sesuatu dan bantuan orang lain, yang mengerti penderitaan orang lain dan tidak menjadikan uang sebagai tujuan utamanya.”

Setelah proses interview tersebut, si pemuda diterima bekerja dan menjalani pekerjaannya dengan sangat baik. Jenjang kariernya berkembang hingga ia dikenal sebagai seorang manajer yang baik.
Sobat Gemintang, kita mendapat begitu banyak pelajaran dari kisah diatas. Dalam dunia kerja kita tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan setiap tugas dengan baik, tapi kita juga harus bisa menghargai pekerjaan orang lain. Bekerja dengan hati yang tulus dan tidak mejadikan uang sebagai prioritas utama kita dalam hidup ini. Pelajaran lainnya yang kita dapat adalah kasih sayang seorang ibu yang tulus untuk anaknya. Dan sebagai anak, sudah sepatutnya kita menghargai semua jerih payah beliau dengan penuh rasa hormat. Kalau pemuda tersebut bisa, kita pun juga harus bisa!

SUMBER

Bangkit Dari Keterpurukan


Hidup ini ibarat roda berputar. Ada saat dimana kita berada diatas dan ada saat dimana kita berada di bawah. Kedua hal tersebut masing-masing memberi kita pelajaran hidup. Seperti kisah dari salah satu teman saya berikut ini.

Dian Rahma, dia adalah teman saya dari sejak SD hingga kuliah kini. Ia dikenal sebagai perempuan jenius, cantik sekaligus pemborong prestasi di sekolah. Sikap dan wataknya juga baik, ia dikenal sebagai perempuan yang bersahaja. Maka tak heran jika ia menjadi kesayangan para guru-guru dan dosen di kampus. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang ramah saat bergaul dengan teman-temannya, termasuk saya.


Prestasinya dibidang akademik dan non akademik seakan menjadi santapan harian. Ia pernah menjuarai lomba Sains tingkat nasional, lomba matematika, lomba berdialog dalam bahasa Inggris, lomba atletik 800 meter, lomba renang dan sederet perlombaan lainnya.  Namun, kesuksesan yang ia raih dimasa-masa emasnya seakan redup diterpa angin badai saat sebuah kecelakaan tabrak lari menimpanya.

Kala itu, Dian mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan tulang tengkoraknya retak dan juga kedua kakinya. Ia pun harus menjalani masa-masa perawatan yang cukup lama serta menyakitkan. Seiring berjalannya waktu, prestasi yang telah diraihnya selama ini digeser oleh orang lain dan mau tak mau ia ketinggalan banyak materi pelajaran dari kampusnya. Kini, nama Dian Rahma tak lagi seharum dulu.

Tapi walaupun begitu, dengan pelan tapi pasti ia mencoba meraih kembali apa yang sempat hilang dari dirinya. Ia belajar dengan keras dan berlatih agar kakinya dapat berjalan seperti sedia kala. Tak mudah bagi Dian saat itu menghadapi apa yang telah terjadi. Dia anak yang baik dan bersahaja juga selalu menuruti perkataan orang tua, tapi kenapa ia ditimpa musibah berat seperti itu?

Sobat Gemintang, sesungguhnya ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita pelajari dilingkungan sekitar kita. Bangkit dari keterpurukan sejatinya adalah hal yang tidak mudah, bahkan sangat berat. Kita harus melawan perasaan sedih dan kecewa serta kembali berjuang dari titik nol. Tapi semua itu adalah bentuk pelajaran hidup yang mengajarkan kita pada arti ketangguhan.

Hidup tanpa dinamika akan terasa datar dan membosankan. Karena itu, cobaan atau ujian hidup yang datang tak pernah memandang seperti apa pribadi tersebut. Yang perlu kita lakukan hanyalah bangkit dari keterpurukan agar kita bisa belajar bagaimana menjadi sosok yang tangguh dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Jadi, jangan lagi mengeluh dengan setiap masalah yang menimpa kita. Ayo bangkit!

SUMBER

Hal Kecil yang Membawa Perubahan


Sebenarnya kita tahu, bahwa segala hal yang besar itu bermula dari hal yang paling kecil. Namun tak banyak yang mengerti bagaimana hal kecil bisa mendatangkan sesuatu yang besar ketika kita melakukan hal yang besar justru tak mendatangkan apa-apa. Kisah berikut, semoga bisa menginspirasi kita bahwa tak ada sesuatu pun yang akan sia-sia bila kita melakukannya dengan sukacita.

Seperti biasanya, seorang Gadis yang tinggal bersama neneknya, menyapu seluruh halaman di depan rumah. Neneknya selalu berkata agar halaman tak perlu dibersihkan, karena daun pepohonan pasti akan berguguran dan mengotori halaman lagi, “Sudah jangan disapu lagi, biarkan saja, cukup sapu bagian dalamnya saja.” ujarnya. Namun Gadis hanya tersenyum mendengar keluhan yang bukan pertama kali ia dengar dari neneknya itu.


Tiba sore hari saat Gadis sudah pulang dari bekerja, Neneknya menghampiri dan meminta ia untuk mengambilkan daun di pekarangan. Namun sepertinya Nenek sudah menunggu cukup lama hingga ia merasa kesal dan akhirnya menyusul kesana.

Gadis : “Nenek, kenapa kesini? Tunggu saya sebentar lagi.”
Nenek : “Ini sudah gelap. Kamu sedang apa?”

Gadis pun tersenyum sendiri dan memperlihatkan sesuatu pada Neneknya. “Nenek, bagus, kan?”
Nenek yang terkejut kembali bertanya, “Kapan kamu membuatnya?”
Gadis menjelaskan, “Setiap kali saya menyapu halaman, dedaunan kering itu saya kumpulkan, Nek. Kalau senggang, ya ini yang saya lakukan. Tapi sayang, ini belum sepenuhnya selesai, Nek. Tunggu sedikit lama lagi, ya.”

Rupanya gadis itu membuat sebuah kerajinan unik yang ia buat dari dedaunan kering dan menempatkannya sebagai hiasan tembok di pekarangan belakang rumah. Satu persatu dedaunan kering direkatkan ke tembok. Dan kini, karyanya mendekati sempurna. Selain itu ia kembali menjelaskan,

“Lagipula Nek, halaman depan rumah itu kan muka saat tamu akan bertandang kerumah kita. Walaupun pekerjaan hanya akan sia-sia, tapi bukankah lebih baik ketimbang hanya memandanginya saja? Semakin hari halaman tentu akan semakin kotor, bila kita sama sekali tidak perlahan-lahan membersihkannya.”

Ya, menyapu pekarangan rumah merupakan aktivitas rutin yang dilakukan setiap hari. Sebagaimana rumah yang bisa kapan saja kotor, begitupun halnya dengan diri kita. Bersihkan diri dari rasa benci, dendam, iri dan dengki kepada sesama. Keburukan yang tumbuh sedikit demi sedikit tanpa kita berusaha memperbaikinya, maka suatu saat akan menjadi keburukan besar dan bukan tidak mungkin justru kita sendiri yang akan menanggung akibatnya.

Bersikaplah sedikit lebih sabar saat orang lain menyakiti kita, karena itulah cara agar hal-hal kecil tak menjadi bom waktu bagi diri kita sendiri. Maka, hari-hari ini adalah waktu yang tepat dimana kita bisa selalu belajar untuk bisa lebih baik lagi dan selalu membawa perubahan sekalipun itu bermula dari hal yang kecil.
 
Dan juga melalui kisah ini kita belajar bahwa sesuatu yang nampaknya tak berharga pun bisa menjadi persembahan istimewa saat kita memperlakukannya dengan sukacita. Sebaliknya, banyak hal-hal berharga yang awalnya kita anggap spektakuler  justru pada akhirnya terlihat biasa saja. So, maknai hidup ini dengan bijaksana dan berusahalah untuk mengambil pelajaran hidup sekecil apapun itu.

SUMBER

Pelajaran Kehidupan


Guru-guru di sekolah atau dosen-dosen di kampus mengajarkan tentang banyak pelajaran selama kita menimba ilmu mulai dari TK hingga tingkat Universitas. Tapi tentu saja pelajaran tentang hidup tidak kita dapat di instansi-instansi tersebut karena pelajaran tentang kehidupan akan terus berjalan selama kita masih hidup. Nah, berikut ini ada hal-hal yang tidak dapat diajarkan guru atau dosen kepada para muridnya, tapi justru kita yang harus mempelajarinya sendiri. Seperti apa saja itu? Yuk mari kita mempelajarinya.
  • Make a decision
Dalam hidup akan selalu muncul berbagai macam pilihan. Membeli tas atau sepatu baru, pergi ke mall atau taman hiburan, bahkan memilih pasangan hidup dibutuhkan sebuah keputusan. Dan bagaimana membuat keputusan yang baik dan bijak? Pertimbangkan segala resiko serta pro kontra masing-masing pilihan yang ada. Dengarkan kata hati saat memutuskan untuk membuat suatu keputusan.
  • Berani bermimpi besar
Artis Agnes Monica berkata, dream, believe and make it happen. Bahkan kalangan politisi seperti Aburizal Bakrie dan pemimpin bangsa kita yaitu Soekarno berujar untuk bermimpilah setinggi-tingginya. So, Jangan pernah takut dan ragu untuk meletakkan mimpi kita ditempat yang paling tinggi. Justru hal tersebut akan membuat kita untuk berusaha lebih keras juga, bukan? Jangan takut jatuh, bermimpilah!
  • Menghadapi musuh terberat
Selama menjalani hidup, kita pasti menemui orang dengan sifat dan karakter yang berkebalikan dengan kita. Kitapun dapat mengetahui mana lawan dan mana kawan, si egois, si pem-bully atau mana orang yang dapat dipercayai. Tak perlu risau ketika Anda diperhadapkan dengan mereka. Perbedaan membuat dunia lebih berwarna. Yang terpenting kita tak perlu menjadi seperti mereka. Menjadi diri sendiri saja sudah cukup serta selalu siap menghadapi musuh terberat kita.
  • Menerima kritikan dengan hati terbuka
Tak semua orang suka dikritik. Kebanyakan orang justru lebih suka mengkritik. Namun dalam hidup kita tak bisa menghindari kritikan.Jadi daripad Anda pusing dengan kritikan yang ditujukan kepada diri Anda, lebih baik menerimanya dengan hati terbuka dan menjadikan kritik tersebut sebagai cambukan agar kita dapat melangkah lebih maju.
  • Ikhlas melepaskan
Pelajaran tentang melepaskan sesuatu bisa dibilang pelajaran hidup yang paling sulit. Misalnya, Anda sulit melepaskan kekasih atau persahabatan Anda, tapi jika Anda tetap mempertahankannya hal tersebut justru membuat Anda atau kekasih Anda tidak bahagia. Jadi, bejarlah pelan-pelan melepaskan sesuatu yang memang mesti dilepas. Hal ini sejatinya hanya merupakan serangkaian dari proses yang mesti terjadi di hidup kita.
  • Berdebat sehat
Perdebatan selalu bisa terjadi baik itu dengan keluarga, sahabat atau mungkin pacar Anda. Perlu diingat, sebaiknya hindari perdebatan yang justru akan merugikan diri Anda. Jangan pernah berdebat dengan menggunakan “otot” atau nada tinggi. Hindari juga kata-kata yang akan membuat Anda menyesal nantinya.
  • Menerima pujian
Saat Anda dipuji karena baju kerja Anda yang baru dan menarik atau sepatu model terbaru yang sangat cocok ketika Anda memakainya, jangan lantas menafsirkan pujian tersebut sebagai hal yang negatif. Katakan terima kasih atas pujiannya karena Anda layak untuk menerima itu dan hargailah diri Anda sendiri.

Melepaskan Belenggu Batin


Coba perhatikan perumpaan dari kisah berikut ini: Dian merasa sangat tertekan selama tinggal bersama mertuanya. Untuk itu Dian meminta kepada suaminya agar mereka pindah dari rumah tersebut dan mencari rumah baru untuk ditempati berdua. Selama menempati rumah baru, kehidupan dan pikiran Dian menjadi lebih tenang karena ia tak lagi merasa tertekan.

Setelah pindah, Dian mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang mertua dan kini hubungannya dengan mertuanya kembali baik namun Dian tetap memutuskan untuk tidak lagi serumah dengan beliau.


Keputusan dan sikap aktif yang Dian ambil membuatnya lepas dari belenggu batin yang selama ini ia alami. Lalu bagaimana dengan kehidupan kita sehari-hari, Sobat ? Apakah Anda mengalami keadaan yang hampir sama dengan cerita diatas? Keadaan yang semula baik-baik saja, yang awalnya menyenangkan kini berubah drastis dan membuat Anda merasa tidak lagi nyaman.

Tentulah setiap manusia pernah merasakan saat-saat seperti itu. Saat-saat tidak menyenangkan yang mampu membelenggu batin. Lalu bagaimana jalan keluarnya? Mudah saja, jalan keluarnya yaitu mengambil keputusan. Keputusan Andalah yang menentukan apakah Anda bisa lepas dari belenggu batin itu atau tidak.

Jika keputusan yang Anda ambil sudah tepat dan benar, maka seiring berjalannya waktu belenggu itu pun akan terlepas dari dalam diri dan pikiran Anda. Jadi mulailah mengambil langkah atau tindakan dari segala kesulitan dan belenggu batin yang kini sedang Anda alami.

SUMBER

Mengatasi Rasa Kehilangan


Pernahkah kamu kehilangan sesuatu atau mungkin seseorang yang benar-benar berharga untukmu? Sudah pasti berbagai perasaan buruk berkecamuk saat itu mulai dari sedih, kacau, marah dan pastinya kehilangan.

Kehilangan mereka yang kita sayang terkadang membuat kita lupa akan makna sebuah pertemuan, “suatu pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan”. Apapun itu, siapapun itu, pasti memiliki batas waktu untuk bersama kita. Hal tersebut sudah merupakan hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh siapapun.


Yang harus kita lakukan adalah bagaimana cara menghadapi perasaan kehilangan tersebut dengan benar. Jangan sampai perasaat tersebut membuatmu jatuh terpuruk dan kehilangan akal sehatmu.
Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah berpikir positif. Cobalah untuk melihat segala sesuatu tidak dari sisi negatifnya saja, dengan melihat dari sisi positif maka hal ini akan mempercepat proses pengembalian rasa kehilanganmu.

Walaupun sulit, ikhlas adalah cara terbaik untuk membuat dirimu merasa lebih baik. Dengan merelakan mereka yang telah meninggalkanmu maka tidak hanya kamu yang bisa merasa lebih baik, mereka pun demikian. Mereka tidak akan senang melihatmu terus menerus terpuruk dan bersedih meratapi kepergiannya.

Doakan mereka yang telah meninggalkanmu agar mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dibanding saat mereka masih bersamamu. Biarkan mereka merasa lebih bahagia ditempat barunya. Kamu pun harus turut berbahagia, karena ini memang sudah takdir yang digariskan Tuhan.
Terakhir, segeralah bangkit dan menatap kehidupan. Tentu saja kamu boleh menangis karena merasa kehilangan, tapi pastikan untuk tidak menangisinya berlarut-larut dan segeralah bangkit untuk menghadapi kehidupanmu.

SUMBER

Apakah Kamu Telur, Kentang Atau Kopi?


Setiap orang pasti menghadapi tekanan dan masalah dalam hidup. Setiap orang pun punya sikap berbeda dalam meresponi tiap masalah yang ia hadapi. Tidak jarang, masalah-masalah membuat kita lelah dan tertekan. Inilah yang dialami Tania, seorang wanita muda berusia 22 tahun yang baru saja masuk ke lapangan kerja.

Dengan lunglai, ia pulang ke rumah melihat sang ayah sedang duduk mengaso di beranda depan. Sambil mengeluh, Tania duduk di sebelah ayahnya dan mulai mengeluhkan kesulitan-kesulitan hidupnya. Di akhir cerita ia berkata, “Aku capek, Pah.”


Ayahnya membawa Tania ke dapur. Ia pun segera menjerang air di tiga panci kecil berbeda secara bersamaan. Ketika air dalam panci-panci itu mulai mendidih, ia segera menempatkan kentang di panci pertama, telur di panci kedua, dan serbuk kopi hitam di panci ketiga.

Setelah 20 menit, ia mulai mematikan kompor dan mengambil satu mangkok dan meniriskan kentang dan telur yang tadi direbus ke dalamnya. sang ayah pun mengambil satu cangkir dan mengisinya dengan seduhan kopi.

Tania yang bingung dan lelah, memandang ayahnya dengan penuh tanya.

Sambil tersenyum lembut, sang ayah bertanya, “Apa yang kamu lihat?”

“Kentang, telur, dan kopi?” jawab Tania.

“Lihat dan sentuh kentang dan telurnya.” Tania pun menyentuh kentang yang melembut sesudah direbus dan telur rebus. Kemudian ia menyesap kopi yang tadi diseduh sang ayah, aroma kopi itu membuat Tania merasa tenang dan tersenyum kecil.

“Kamu lihat kan baik kentang, telur dan kopi semuanya menerima perlakuan yang sama yaitu dimasukkan ke dalam air mendidih. Tapi, tidakkah kamu menyadari perbedaan hasil akhir dari ketiganya? Kentang yang awalnya keras menjadi lembut dan mudah dilumat, sebaliknya telur yang tadinya cair mengeras dan menjadi solid. Lain lagi dengan kopi yang akhirnya mengubah warna air dan menghasilkan aroma yang harum. Sama halnya dengan manusia, kita semua mengalami masalah, namun yang membedakan satu dengan yang lain adalah respon kita ketika menghadapi masalah itu. Apakah kita akan hancur, menjadi semakin kuat, atau malah memberi pengaruh yang baik pada sekeliling kita?”

Setelah mendengarkan penjelasan sang ayah, Tania berlari menghampiri ayahnya, memeluk, dan mengucapkan “terimakasih, Papa.”

Sobat, sama seperti Tania, kita pun mau tidak mau akan selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan dan masalah. Tapi yang paling penting adalah bagaimana sikap kita ketika menghadapi setiap tantangan dan masalah itu. Usahakan setiap tantangan dan masalah yang kita hadapi menjadikan kita semakin kuat, bukannya terpuruk.

SUMBER